Rabu, 23 Mei 2012

SAP ATA PEMASARAN


SATUAN ACARA PERKULIAHAN
MANAJEMEN PEMASARAN* & MANAJEMEN PEMASARAN 2*
SEMESTER ATA 2005/2006

NO

POKOK BAHASAN
SUB POKOK BAHASAN

TEKNIK PEMBELAJARAN
MEDIA PEMBELAJARAN
TUGAS
REFERENSI
1.
MINGGU I :

RISET DAN SISTEM INFORMASI PEMASARAN

TIU :
Mahasiswa diharapkan dapat mengerti / menjelaskan tentang system informasi pemasaran, proses riset dan pertimbangan riset pemasaran lainnya
Ruang Lingkup Mata Kuliah :
Untuk memberikan konsep dasar mengenai kegiatan pemasaran dalam usaha bisnis maupun organisasi nir-laba untuk menghasilkan pendapatan dengan memenuhi keinginan konsumen

Sasaran :
Mahasiswa dapat mengerti dan memahami kegiatan pemasaran di abad ke 21

Tujuan :
Mempelajari kegiatan pemasaran baik di organisasi bisnis maupun organisasi nir-laba pada abas ke 21 ini untuk memenuhi kebutuhan konsumen

Kompensasi Lulusan :
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mengerti dan memahami kegiatan pemasaran  dalam usaha bisnis maupun organusasi nir-laba untuk menghasilkan pendapatan pada abad ke 21 ini

1. Sistem Informasi Pemasaran
2.Proses Riset Pemasaran
3.     Pertimbangan Riset Pemasaran Lainnya

TIK :
1.      Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
2.      Mampu menjelaskan pentingnya informasi bagi perusahaan
3.      Mampu mendefinisikan system informasi pemasaran dan mendiskusikan bagian-bagiannya
4.      Mampu membuat garis besar proses riset pemasaran
5.      Mampu membandingkan keuntungan dan kerugian berbagai metode pengumpulan  informasi
6.      Mampu mendiskusikan isu-isu khusus yang dihadapi periset pemasaran termasuk kebijakan publik dan isu etnik

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku I
Bab 4

Buku III
Bab 8
2.
MINGGU II & III :

PASAR KONSUMEN DAN PERILAKU PEMBELIAN KONSUMEN

TIU :
Mahasiswa mapu menjelaskan tentang model perilaku konsumen, factor yang mempengaruhi perilakunya, dan proses pengambilan keputusan
1. Model Perilaku Konsumen
2. Karakteristik yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
3. Tipe Perilaku Pembelian Konsumen
4. Proses Pengambilan Keputusan
5. Proses Keputusan Pembelian Produk Baru
6. Perilaku Konsumen Luar Negeri

TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1. Mampu mendefinisikan pasar konsumen dan membuat model
2. Mampu menyebutkan empat factor utama yang dapat mempengaruhi perilaku pembelian konsumen
3. Mampu membuat daftar dan memahami berbagai tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian
4. Mampu menggambarkan proses dan difusi produk baru

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku I
Bab 5

Buku III
Bab 5
3.
MINGGU IV & V :

PASAR INDUSTRI DAN PERILAKU PEMBELI DI PASAR INDUSTRI

TIU :
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pasar industri, perilakunya dan pasar institusi serta pasar pemerintah
1. Pasar Industri
2. Perilaku Pembeli di Pasar Industri
3. Pasar Institusi dan Pemerintah

TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1. Mampu mendefinisikan pasar industri dan menjelaskan bagaimana pasar industri berbeda dengan pasar konsumen
2.  Mampu mengidentifikasi factor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku pembeli industri
3.  Mampu membuat daftar dan mendefinisikan langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan pembelian industri
4. Mampu membandingkan pasar kelembagaan dan pemerintahan serta menjelaskan proses pengabilan keputusan pembelian mereka

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku I
Bab 6

Buku III
Bab 6
4.
MINGGU VI  :

MENSEGMENTASI, MEMBIDIK DAN MELAKUKAN POSITIONING DI PASAR GUNA MENDAPATKAN KEUNGGULAN BERSAING

TIU :
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang segmentasi pemasaran, pembidikan  pasar dan positioning untuk mendapatkan keunggulan bersaing
1. Segmentasi Pasar
2. Pembidikan Pasar
3.  Positioning untuk Mendapatkan Keunggulan Bersaing

TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1. Mampu mendefinisikan tiga langkah membdidika pasar, mensegmentasi pasar, membidik pasar dan melakukan positioning di pasar
2. Mampu membuat  daftar dan mendiskusikan tingkatan-tingkatan utama segmentasi pasar dan dasar-dasar untuk mensegmentasikan pasar konsumen dan pasar industri
3. Mampu menerangkan cara perusahaan mengidentifikasi segmen-segmen pasar yang menarik perhatian dan memilih strategi peliputan pasar
4. Mampu mendiskusikan cara sejumlah perusahaan memposisikan produk mereka dalam rangka mendapatkan keunggulan bersaing yang maksimum di pasar

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku I
Bab 7

Buku III
Bab 7
5
MINGGU VII : 

PEMASARAN LANGSUNG DAN ON LINE

TIU :
Mahasiswa dapat menerangkan tentang apa yang dimaksud dengan pemasaran langsung, manfaat dan pertumbuhan, basis data pelanggan, bentuk pemasaran langsung, pemasaran online, pemasaran langsung terpadu serta kebijakan publik dan isu etis dalam pemasaran langsung
1.  Apa itu Pemasaran Langsung ?
2. Manfaat-manfaat dan Pertumbuhan Pemasaran
3. Basis Data Pelanggan dan Pemasaran Langsung
4. Bentuk-bentuk Pemasaran Langsung
5. Pemasaran Online dan Perdagangan Elektronik
6. Pemasaran Langsung Terpadu
7. Kebijakan Publik dan Isu etis dalam Pemasaran

TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1. Mampu membahas manfaat-manfaat pemasaran langusng bagi pelanggan dan perusahaan serta tren-tren yang mendorong pesatnya pertumbuhan tersebut
2. Mampu mendefinisikan basis data pelanggan dan menyebutkan empat cara perusahaan menggunakan basis data dalam pemasaran langsung
3. Mampu mengidengifikasi bentuk-bentuk utama pemasaran langusng
4.  Mampu membandingkan dua jenis saluran pemasaran online dan menerangkan dampak internet pada perdagangan elektronis
5.  Mampu mengidentifikasi manfaat-manfaat pemasaran online bagi pelanggan dan pemasar serta empat cara pemasaran online yang dilakukan oleh pemasar
6. Mampu mendefinisikan  permasalahan kebijakan umum dan etika yang dihadapi para pemasar langsung

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku II
Bab 17


6.
MINGGU VIII :

PEMASARAN SATU PER SATU (ONE TO ONE MARKETING)

TIU :
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pemasaran satu per satu, kekuatan yang mempengaruhinya, keuntungan dari pemasaran satu per satu dan database pemasaran satu per satu
1.  Apa itu One To One Marketing ?
2. Kekuatan yang Mempengaruhi One To One Marketing
3. Sebuah Proses Komunikasi Pemasaran Yang Direvisi
4. Keuntungan dari One To One Marketing
5. Aplikasi One To One Marketing
6. Dasar Teknologi Database Pemasaran
7. Tiga Tingkat dari Database One To One Marketing
8. One To One Marketing dan Internet
9.Kerahasiaan Pribadi Menyangkut One To One Marketing
 
TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1.         Mengetahui apa yang dimakdsud dengan One To One Marketing
2.         Mengetahui kekuatan yang mempengaruhi One To One Marketing
3.         Menjelaskan bagaimana sebuah proses komunikasi pemasaran yang direvisi
4.         Mengetahui keuntungan dari One To One Marketing
5.         Mengetahui keuntungan aplikasi One To One Marketing
6.         Mengetahui dasar Teknologi Database Pemasaran
7.         Mengetahui tiga tingkat dari Database One To One Marketing
8.         Menjelaskan One To One Marketing dan Internet
9.         Mengetahui kerahasiaan pribadi menyangkut One To One Marketing

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku III
Bab 20


7.
MINGGU IX :

STRATEGI PERSAINGAN : MENARIK, MEMPERTAHANKAN DAN MENUMBUHKAN PELANGGAN

TIU :
Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pemasaran relasional dengan pelanggan, strategi pemasaran untuk bersaing dan menyeimbangkan orientasi pada pelanggan dan orientasi para pesaing

1. Pemasaran Relasional dengan Pelanggan
2. Strategi Pemasaran Untuk Bersaing
3. Menyeimbangkan Orientasi pada Pelanggan dan Orientasi Para Pesaing

TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1.      Mampu membahas nilai dan kepuasan  pelanggan dan bagaimana perusahaan menarik, mempertahankan dan menumbuhkan pelanggan-pelanggan yang menguntungkan
2.      Mampu menjelaskan peran-peran rantai nilai perusahaan, jaringan penyampaian nilai dan kualitas total dalam menyampaikan  nilai dan kepuasan pelanggan
3.      Mampu membahas perlunya memahami para pesaing dan juga pelangga melalui analisis pesaing
4.      Mampu menjelaskan dasar-dasar strategi pemasaran persaingan berdasarkan pada peniptaan nilai bagi para pelanggan
5.      Mampu menggambarkan perlunya menyeimbangkan orientasi pada pelanggan dan orientasi pada pesaing dalam rangka menjadi organisasi yang benar-benar berpusat pada pasar

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku II
Bab 18
8.
MINGGU X & XI :

PASAR GLOBAL

TIU :
Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang arti dari pasar global di abad 21, melihat lingkungan pasar global, cara memasuki pasar global, program pemasaran global dan organisasi pemasaran global
1. Pemasaran Global pada Abad Ke –21
2. Melihat Lingkungan Pemasaran Global
3. Memutuskan Apakah Akan Beroperasi secara Internasional
4. Memutuskan Pasar Mana yang Akan Dimasuki
5. Memutuskan Cara Memasuki Pasar
6. Memutuskan Program Pemasaran Global
7. Memutuskan Organisasi Pemasaran Global

TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1.          Mampu membahas bagaimana system perdagnagan internasional, lingkungan ekonomi, politik-hukum, dan budaya mempengaruhi keputusan pemasaran internasional sebuah perusahaan
2.          Mampu menggambarkan tiga pendekatan kunci untuk memasuki pasar internasional
3.          Mampu menjelaskan bagiamana perusahaan menyesuaikan bauran pemasaran di pasar internasional mereka
4.          Mampu mengidentifikasi tiga bentuk utama organisasi pemasaran internasional

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku II
Bab  19

Buku III
Bab 4

Buku V
Bab 13
  9.
MINGGU XII :

PEMASARAN DAN MASYARAKAT : TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN ETIKA PEMASARAN

TIU :
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan tentang kritik social terhadap pemasaran dan bisnis yang bertanggung jawab

1. Kritik Sosial terhadap Pemasaran
2. Warga Negara dan Publikasi yang Dapat Mengatur Pemasaran
3. Tindakan Bisnis Menuju Pemasaran yang Bertanggung Jawab secara Sosial
TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1.          Mampu mengidentifikasi kritik-kritik social tentang pemasaran
2.          Mampu mendefinisikan gerakan perlindungan konsumen dan gerakan pelestarian lingkungan dan menjelaskan bagaimana kedua gerakan ini mempengaruhi strategi pemasaran
3.          Mampu menggambarkan prinsip-prinsip pemasaran yang bertanggung jawab secara social
4.          Mampu menjelaskan peranan etika dalam pemasaran

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku II
Bab 20
10.
MINGGU XII  :

ANALISIS TERHADAP PESAING

TIU :
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan para pesaing dalam pemasaran, menentukan sasaran para pesaing, merancang system intelejen, menyeimbangkan orientasi pelayanan dan orientasi pesaing dan merancang strategi bersaing

1. Mengidentifikasi Para Pesaing
2. Menganalisis Pesaing
3. Menentukan Sasaran Para Pesaing
4. Merancang Sistem Intelejen
5. Menyeimbangkan Orientasi Pelayanan dan Orientasi Pesaing
6. Merancang Strategi Bersaing

TIK :
Setelah mempelajari bahasan ini, diharapkan mahasiswa
1.          mampu mengidentifikasi Para Pesaing
2.          Mampu menganalisis Pesaing
3.          Mengetahui bagaimana menentukan Sasaran Para Pesaing
4.          Mampu merancang Sistem Intelejen
5.          Mengerti cara menyeimbangkan Orientasi Pelayanan dan Orientasi Pesaing
6.          Mampu merancang Strategi Bersaing

Kuliah Mimbar, Diskusi
Papan Tulis, OHP

Buku IV
Bab 8
Buku III
Bab 9

REFERENSI :

1.      Philip Kotler dan Gary Amstrong, 2003, Dasar-dasar Pemasaran, Alih Bahasa oleh Alexander Sindoro, Edisi Kesembilan, Jilid 1, PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta
2.      ……………………………………, 2004, Dasar-dasar Pemasaran, Alih Bahasa oleh Alexander Sindoro, Edisi Kesembilan, Jilid 2, PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta
3.      Charles w. Lamb, Joseph F. Hair dan Carl McDaniel, 2001, Pemasaran, Edisi Pertama, Buku 1 & 2,  Penerbit Salemba Empat, Jakarta
4.      Philip Kotler, 2002, Manajemen Pemasaran, Edisi Milenium, Jilid 1 dan 2, Penerbit Prenhallindo, Jakarta
5.      ....................., 2005,  Manajemen Pemasaran, alih bahasa : Benyamin Molan, jilid 2, edisi 11, PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta


Perilaku konsumen

Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan (Duncan, 2005). Menurut Kincaid (2003), Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Olson dan Peter (2008) menyatakan bahwa terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen. Pendekatan pertama adalah pendekatan interpretif. Pendekatan ini menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus group discussion untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika membeli dan menggunakannya.

Pendekatan kedua adalah pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi. Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan metode untuk menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi dilakukan melalui eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan mencari pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.

Pendekatan ketiga disebut sebagai sains marketing yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika. Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika berdasarkan hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan pola konsumsi, yang dikenal dengan sebutan moving rate analysis.

Ketiga pendekatan sama-sama memiliki nilai dan tinggi dan memberikan pemahaman atas perilaku konsumen dan strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut.

Silahkan Anda baca materi "Pendekatan Perilaku Konsumen", yang selengkapnya dapat anda lihat di sini.

Sumber : V-class Gunadarma

Konsep pemasaran era digital

Era digital dengan kemajuan teknologi informasi dan koneksi internet sangat menefisiensikan kehidupan masyarakat kita sekarang. Bahkan kini sudh menjadi gaya hidup sebagian masyarakat kita dan mulai menjamur menjadi trend. Tidak bisa di pungkiri lagi, hal ini menimbulkan fenemena baru dimana terjadinya pergeseran perilaku konsumen baik itu barang yang mereka gunakan maupun cara berbelanja mereka yang cendrung mengedepankan kepraktisan dan efisiensi. Mereka mulai meninggalkan cara berbelanja secara manual, bagi sebagian orang yang sibuk cara berbelanja on-line dianggap tidak menambah kesibukan mereka, Cukup dengan hanya dengan mengakses internet , memilih produk-produk yang ingin dibeli, gunakan kartu kredit, dan barang pesanan pun siap dihantar oleh produsen langsung kerumah si pemesan. Contoh lain yang dapat kita rasakan secara nyata adalah toko buku gramedia. Betapa sepinya took-toko buku semenjak kemunculan Graamedia. Hal ini disebabkan pergeseran perilaku konsumen di era digital; orang mulai bosan menjelajahi barang-barang yang mereka perlukan secara manual. Kepraktisan yang disiapkan oleh database Gramedia membuat mereka cendrung mengunjungi Gramedia. Tidak diperlukan waktu berjam-jam untuk mencari buku yang mereka inginkan, bahkan tidak jarang buku yang mereka cari tidak tersedia. Dengan system on-line Gramedia mampu mengeliminir masalah tersebut. Data-data buku yang di inginkan oleh calon pembeli dapat ditelusur melalui computer yang tersedia disetiap sudut tertentu dari lorong-lorong buku yang dipajang.
Kemunculan era digital senantiasa merubah perilaku konsumen dalam hal pemilihan produk-produk yang akan mereka konsumsi . Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dapat mengubah sikap dan daya tarik konsumen terhadap suatu produk, namun hal ini tidak sepenuhnya dapat mempengaruhi perilaku konsumen, karena teknologi tidak dapat mengubah karakteristik dan sifat otentik manusia. Hal ini berkaitan dengan keinganan dan emosional manusia itu sendiri yang sebenarnya menjadi pendorong utama sebagai pertimbangan membeli suatu produk. Era digital ini hanyalah menfasilitasi dan sifatnya hanyalah mempengaruhi secara temporer. Era digital hanya membuat pelaku bisnis untuk memodifikasi caranya menjangkau dan memasarkan produk kepada calon pembeli yang potensial. Jadi pada dasarnya karakteristik dan perilaku konsumen di pra era digital maupun di era digital hampir sama. Hal terpenting adalah bagaimana para pebisnis dapat meyakinkan konsumen yang berawal dari adanya rasa kepercayaan konsumen terhadap pihak-pihak yang menyediakan produk-produk yang mereka perlukan. Karena dalam prakteknya, berbisnis di era digital ini lebih rentan terhadap penipuan. Tanpa adanya tatap muka, dan observasi langsung terhadap produk yang diinginkan dapat saja menimbulkan kecurangan dan penipuan terhadap konsumen.
Petikan saya yang lain tentang pemasaran di ini adalah, diera digital dengan koneksi internet ini bukan hanya menguntungkan bagi konsumen, tapi juga bagi produsen (perusahaan) itu sendiri. Dengan strategi pemasaran era digital yang praktis tapi mengglobal mampu mengefisiensikankan biaya. Biaya promosi, distribusi bisa menjadi lebih murah. Selain itu, era digital juga mampu membuat kegiatan operasional perusahaan menjadi efekktif dan efesien . Hal inilah yang dialami oleh Toyata melalui sistem persediaannya “Just in Time”, yang memanfaatkan koneksi internet dalam pemesanan bahan baku. Sistem on-line dengan supplier akan kebutuhan bahan baku meminimalisasi biaya penyimpanan, mungkin bisa zero.
Untuk menghadapi pergeseran perilku konsumen diera digital ini seharusnya perusahaan harus menyiapkan strategi khusus, mungkin mereka harus mampu mengikuti trend yang ada dan terus mengembangkan system dan sumber daya yang ada agar sejalan dengan perkembangan zaman dan selera pasar.

Pendapat mengenai perilaku konsumen

Di zaman modern ini segala kreatifitas menjadi harta yang tidak ternilai. Hal ini mendorong manusisa untuk mencari dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan oleh manusia. Begitu juga dalam dunia bisnis, semakin hari semakin banyak saja hal-hal yang dilakukan oleh manusia untuk dapat mengembangkan bisnisnya. Mereka semakin terbantu dengan berkembangnya teknologi diseluruh nusantara. Kemunculan era digital senantiasa merubah perilaku konsumen dalam hal pemilihan produk-produk yang akan mereka konsumsi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dapat mengubah sikap dan daya tarik konsumen terhadap suatu produk, namun hal ini tidak sepenuhnya dapat mempengaruhi perilaku konsumen, karena teknologi tidak dapat mengubah karakteristik dan sifat otentik manusia. Hal ini berkaitan dengan keinganan dan emosional manusia itu sendiri yang sebenarnya menjadi pendorong utama sebagai pertimbangan membeli suatu produk. Oleh karena itu, mereka berpikir keras untuk menemukan cara bagaimana memperlancar pemasaran produk mereka dengan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang.
Strategi pemasaran dan iklan ikut berperan besar dalam menentukan suatu bisnis sukses atau gagal dalam menghadapi pasar. Untuk mendapatkan eksposur yang besar beberapa perusahaan dapat menghabiskan dana hingga ratusan juta. Tetapi mengingat kondisi perekonomian yang fluktuatif dan sulit ditebak, sangat masuk akal bila budget promosi harus disusun secara cerdas dan seefisien mungkin. Banyak cara untuk melakukan penghematan biaya promosi, mulai dari mengadakan sayembara, kuis, event, atau kerja sama dengan pihak lain seperti bank. Salah satu contoh strategi pemasaran yang muncul akibat hal tersebut diatas adalah Evoucher, yaitu strategi pemasaran yang baru melalui dayli deal yang dianggap efektif jika diaplikasikan di era digital seperti sekarang ini. Dengan kekuatan sosial media yang dimiliki website seperti eVoucher, promosi jadi lebih tepat sasaran karena menggunakan media yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari customer seperti fb dan twitter serta media online lainnya. Yang paling menarik adalah promosi ini tanpa biaya dimuka. Sistem cerdas diterapkan oleh eVoucher, dimana komisi penjualan dibayarkan setelah mencapai kuota dasar penjualan atau yang mereka sebut dengan "Deal is On". Dengan Indonesia yang mulai semakin serba online, strategi pemasaran ini tampaknya akan menjadi terus menjadi trend. Strategi baru ini tampaknya cukup baik dan dapat menjadi pilihan bagi para pengusaha untuk bisnis mereka.

Karakteristik Barang Digital

Keberadaan internet telah mendorong era informasi dan globalisasi yang tidak mengenal batas ruang dan waktu antar negara. Pada era globalisasi saat ini banyak bermunculan istilah atau konsep baru dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam kegiatan perekonomian- baik pada level ekonomi makro maupun ekonomi mikro. Bahkan konsep-konsep baru tersebut telah mengarah ke kemunculan ”teori-teori” baru yang ”melengkapi”, ”dipertentangkan” bahkan ”menggantikan” beberapa  teori ”lama”.  Beberapa istilah baru  tersebut diantaranya adalah digital economy, economic of internet, knowledge based economy, e-commerce, e-marketing, e-business, e-finance, e-banking, e-money, digital cash, dan less-cash society. Semua konsep-konsep baru tersebut berkaitan dengan perkembangan dan penerapan TIK pada kegiatan perekonomian. Salah satu konsep ekonomi yang mengalami pergeseran secara substansial adalah pengertian barang digital.
Dulu, ketika belajar manajemen pemasaran, kita mengetahui bahwa produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan perusahaan kepada masyarakat sebagai calon konsumen, yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya. Produk tersebut bisa berupa barang atau jasa. Barang itu berwujud sedangkan jasa tidak berwujud, begitulah konsep yang kita fahami dulu. Seiring dengan perjalanan waktu, bidang ilmu pemasaran pun mulai berevolusi dan beradaptasi dengan kehadiran dunia maya yang telah penuh dengan barang digital. Konsep pemasaran mengasumsikan bahwa tidak ada produk yang 100% barang, atau sebaliknya, tidak ada yang 100% sebagai jasa.  Dalam era pemasaran modern, konsep produk tidak bersifat diskrit atau dikotomi, barang murni atau jasa murni. Unsur berwujud dan tak berwujud selalu hadir dalam konsep produk. Televisi  sebagai sebuah produk inti- yang dapat dikategorikan sebagai barang, selalu diselimuti dengan layanan penjualan atau purna jualnya yang bisa digolongkan sebagai jasa.  Atau, Spa sebagai sebuah produk inti berupa jasa, mungkin melibatkan wewangian atau bahan lulur berbentuk barang yang juga dikonsumsi oleh pelanggan jasa Spa.  Jika meminjam konsep garis linier, produk selalu di antara barang dan jasa. Kita hanya bisa mengatakan produk lebih banyak mengarah ke barang, atau sebaliknya lebih berat ke jasa. Bagaimana dengan keberadaan barang digital?
Salah satu dampak perkembangan internet yang sangat pesat terhadap ilmu ekonomi adalah transformasi atau munculnya istilah atau konsep barang digital (digital good).  Quah (2003) menyebutkan bahwa barang digital adalah rangkaian bit- berupa deretan angka atau digit 0 dan 1, yang mempunyai nilai ekonomi. Barang digital berbeda dengan barang konvensional dilihat dari 5 sifatnya yaitu nonrival, infinitely expansible, discrete, a spatial, dan recombinant. Menurut Davis (2002), barang informasi digital bersifat unik atau khusus karena dua alas an yaitu (1) tidak seperti barang umum, barang digital dapat dikodekan sebagai rangkaian bit, dan (2) barang digital terdiri dari yang secara substansial berbeda dengan komoditas lainnya. Menurut Bates dan Perryman (2009), barang digital terdiri dari berbagai bentuk yaitu perangkat lunak gambar digital, lagu, buku, atau video yang dapat diunduh dari internet; dan semua konten online dikatakan sebagai barang digital.  Departemen Keuangan Negara Bagian Washington sedang mengkaji sebuah konsep barang yang disebut dengan “Electronically delivered product” atau “digital good” mencakup data (misalnya musik, film, buku, dan data keuangan),  fakta, pengetahuan, atau prosedur berbentuk elektronik dan dapat dikirimkan melalui berbagai peralatan elektronik. Beberapa contoh barang seperti itu adalah sebagai berikut:
  1. Layanan Website, web hosting, serta pemeliharaan jarak jauh terhadap program dan peralatan;
  2. Perangkat lunak dan pemutakhiran perangkat lunak;
  3. Akses basis data;
  4. Musik, film, dan permainan (games) serta penyiaran berita hiburan, politik, ilmu pengetahuan, olah raga, seni, dan budaya;
  5. Akses online ke layanan pendidikan;
  6. Akses online ke layanan perbankan, jasa broker, dan periklanan;
Mengukur Kualitas Website
Website adalah contoh barang digital yang sangat populer dan fenomenal. Dunia pun berubah gara-garanya. Saat ini  Anda pun sedang mengkonsumsinya ketika membaca tulisan ini. Konsumen atau pengunjung website mungkin yang paling besar, dan sudah menjadi kebutuhan pokok untuk orang-orang medern di dunia yang serba digital.  Bahkan, ketiadaan website mungkin menyebabkan "haus" dengan informasi, "lapar" dengan bacaan, atau "kelimpungan" ketika tidak ada sapaan dari teman lewat social networking. Orang pun bisa ketagihan dengan itu. Jika Anda merasa resah dan gelisah ketika belum mengunjungi sebuah website- misalnya facebook, maka  Anda pun sudah terjangkit penyakit "ketergantungan webiste".
Sebagai konsumen, kadang kita pun suka menilai bagus atau tidaknya sebuah produk, termasuk produk digital. Dengan dalih "Konsumen adalah raja",  wajar jika kita sebagai "sang raja" ingin selalu dilayani dengan sebaik-baiknya. Namun masalahnya, "sang raja" tersebut ternyata jumlahnya banyak dengan keragaman karakter dan keinginan. Apakah sebuah website bisa memilih pengguna atau pengunjung tertentu saja untuk dilayani dengan baik? Pada sebuah website kita mungkin mendapat standar pelayanan yang sama. Namun pernedaan persepsi (dan karakter) dari pengunjungnya bisa menyebabkan perbedaan dalam menilai mutu layanan dari website tersebut.
Keragaman pengguna website menimbulkan keragaman persepsi dalam menilai sebuah kualitas produk. Ada keinginan dan harapan yang berbeda terhadap isi website- yang merupakan salah satu atribut  produk. Isi website tersebut dikenal dengan istilah Web Content. Ada perdebatan etika dan estetika yang harus tercermin dalam karakteristik produk, termasuk website tentunya.  Ada yang senang dengan keindahan tata letak dan tata warna, ada yang lebih suka kemudahan dan navigasi dalam mengekplorasi wesbite, dan ada juga yang mengatakan, "Simple is beautiful". Beda kepala beda rasa dan karsa. Adakah tendensi, kecenderungan, dan suara mayoritas tentang mutu sebuah website?
Kita akan membahas metoda Webqual sebagai salah satu alat atau metode untuk mengukur kualitas sebuah website berdasarkan persepsi dari pengguna website tersebut. Sebenarnya masih ada beberapa teknik atau metode yang digunakan dalam mengukur kualitas website, misalnya e-servqual atau model penilaian kualitas website dari Yang dkk (2005) yang  menggunakan lima  dimensi yaitu Usability, Usefulness of content, Adequacy of information, Accesibility, dan Interaction, dengan menggunakan 19 item pertanyaan.
Metode Webqual merupakan pengembangan dari SERVQUAL yang disusun oleh Parasuraman untuk pengukuran kualitas jasa. Instrumen penelitian pada Webqual tersebut dikembangkan  dengan metode Quality Function Development (QFD). Webqual sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1998 dan telah mengalami beberapa iterasi dalam penyusunan dimensi dan butir-butir pertanyaannya. Akhirnya Barnes dan Vidgen (2003)  menyusun webqual yang menggunakan tiga dimensi yaitu (1) kualitas informasi yang diambil dari konsep  sistem informasi, (2) interaksi dan kualitas layanan dari konsep kualitas sistem informasi, e-commerce, dan pemasaran, serta (3) usability dari konsep human-computer interaction.
13028389131378832176Pengelompokan atau penamaan dimensi atau faktor pengukuran  pada Webqual secara umum berbeda-beda tergantung proses pengujian validitas dan reliabilitas kuisener yang dibagikan kepada konsumen yang menjadi responden pada survey pengukuran mutu sebuah website. Saya tidak akan membahas bagaimana proses pembentukan dimensi atau faktor yang digunakan dalam proses pengukuran tersebut. Namun sebagai gambaran, saya memberikan contoh hasil analisis sebuah website dengan menggunakan metode Webqual- yang saya kutip dari Barnes dan Vidgen. Di sini peneliti menggunakan 8 dimensi  seperti terlihat pada gambar di atas.

Sumber : V-Class Gunadarma

Bahan

Pengertian, Tujuan, dan Persyaratan Segmentasi Pasar

Jerry W Thomas (2007) mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah pengelompokan pasar berdasarkan kesamaan, kemiripan, atau mempunyai keterkaitan yang sama. Tujuan dari segmentasi adalah agar dapat melakukan prioritas, titik berat, atau konsentrasi usaha pemasaran dan mendorong pembagian (atau segmen pasar) untuk mendapatkan keuntungan kompetitif dalam segmen tersebut.  Sedangkan menurut Michael Richarme (2004), tujuan segmentasi adalah membagi konsumen menjadi kelompok-kelompok yang berbeda sedemikan hingga pesan pemasaran dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan yang spesifik dari setiap kelompok konsumen tersebut. Setiap segmen pasar memerlukan karakteristik atau fitur produk yang berbeda, strategi promosi yang berbeda, strategi harga yang berbeda, bahkan mungkin saluran distribusi yang berbeda juga. Hal tersebut menunjukkan bahwa identifikasi atau analisis sebuah segmen pasar perlu dilakukan secara hati-hati, bahkan memerlukan metode riset dengan menggunakan teknik analisis yang rumit dan kompleks. Namun semuanya tetap disesuaikan dengan kondisi dan karaktersitik dari  perusahaannya. Identifikasi segmen pasar yang baik atau tepat harus memenuhi persyaratan yang mencakup (1) homogen di dalam segmen tersebut, (2) heterogen antar segmen, (3) segmen dapat diukur dan memang penting, (4) segmen dapat dibedakan secara jelas dari segmen lainnya, (5) segmen dapat diakses atau digarap dan ditindaklanjuti oleh perusahaan, dan (6) segmen dapat menjadi sasaran yang menguntungkan.


Tipe atau Jenis Segmen Pasar

Teknik segmentasi pasar bisa sederhana atau bisa juga cukup rumit. Hal ini tergantung pada seberapa banyak faktor atau variabel yang digunakan untuk membedakan sebuah segmen pasar dibandingkan dengan segmen yang lainnya. Faktor atau variabel tersebut cukup hanya satu atau dua variabel saja, atau mungkin lebih banyak variabel yang digunakan untuk membuat segmentasi pasar. Sejumlah variabel yang digunakan dalam segmentasi pasar adalah (a) Variabel geografis misalnya wilayah, ukuran populasi, kepadatan penduduk, iklim, dll; (b) variabel demografi misalnya umur, jenis kelamin, besarnya keluarga, pendidikan, penghasilan, jenis pekerjaan, agama, faktor sosio ekonomi, bangsa, atau bahasa; (c) Variabel psikografi misalnya kepribadian, gaya hidup, nilai yang dianut, atau sikap; dan (d) Variabel prilaku misalnya tingkat konsumsi atau penggunaan barang, loyalitas terhadap merek, dll. Berdasarkan faktor pertimbangan atau variabel utama yang digunakan maka segmentasi pasar terdiri dari beberapa jenis atau tipe, yaitu:


1.      Segmentasi Geografis yaitu segmen berdasarkan bata-batas wilayah tertentu, misalnya sebuah perusahaan hanya memasarkan barang atau jasa di wilayah tertentu saja, atau tidak di tempat lain.

2.      Segmentasi Distribusi yaitu segmen berdasarkan saluran distribusi tertentu saja, misalnya sebuah produk hanya dipasarkan melalui toko-toko tertentu atau sebuah produk pakaian hanya dijual pada satu butik terkenal saja

3.      Segmentasi Media yaitu segmen berdasarkan jenis media promosi tertentu, misalnya sebuah  produk elektronik hanya dipasarkan melalu promosi gencar hanya melalui TV saja

4.      Segmentasi Harga  yaitu berdasarkan perbedaan harga, misalnya sebuah perusahaan otomotif memproduksi dan memasarkan mobil dengan jenis berbeda-beda tergantung kisaran harganya (mahal, cukup mahal, atau murah)

5.      Segmentasi Demografis yaitu segmen pasar berdasarkan karakteristik atau ciri individu dari konsumennya, misalnya produk yang dipasarkan untuk jenis kelamin tertentu, tingkat pendidikan tertentu, atau berdasarkan ciri individu lainnya

6.      Segmentasi Waktu yaitu segmen pasar berdasarkan waktu pemasaran atau penjualan tertentu, misalnya sebuh toko hanya buku di waktu-waktu tertentu yang berbeda dengan yang lain, atau malah buka 24 jam

7.      Segmentasi Gaya Hidup atau Psikografi yaitu segmen berdasarkan analisis multivariate (banyak aspek) dari konsumennya yang dapat mencakup prilaku, nilai yang dianut, sikap, emosi, persepsi, keyakinan, atau minat. Tipe segmen pasar ini relatif lebih kompleks dan biasanya memerlukan kegiatan riset kualitatif dengan berbagai teknik atau metode riset yang relevan

Metode Analisis dan Teknik Statistik

Beberapa metode analisis atau teknis statistik sering digunakan dalam melakukan identifikasi atau analisis segmen pasar. Teknis tersebut digunakan pada kegiatan riset atau pemasaran yang salah satu tujuan atau luarannya adalah segmen pasar dari barang atau jasa yang menjadi obyek penelitian. Beberapa metode atau teknik tersebut diantaranya adalah Cluster Analysis, Factor Analysis, Discriminant Analysis atau Multi-Dimensional Anaysis atau teknik Multi-Variate yang lebih modern lainnya. Teknik tersebut dapat dilengkapi dengan teknik penyajian data penelitian secara deskriptif. Berbagai teknis penyajian data dan teknis analisis statistic tersebut dipelajari pada Mata Kuliah Statistik, Metode Penelitian, atau di Mata Kuliah Riset Pemasaran.

Beth Horn dan Wei Huang (2009) menjelaskan secara umum beberapa metode atau teknik segmentasi  dengan menggunakan beberapa metode atau teknik statistik, yaitu sebagai berikut:

1.       Factor Segmentation, yaitu segmentasi berdasarkan analisis faktor. Tahap pertama adalah membuat daftar faktor atau sekelompok atribut yang menunjukkan atau menggambarkan hal-hal umum tentang konsumen. Faktor-faktor tersebut disajikan dalam bentuk kuisener yang diisi oleh responden. Jumlah faktor ditentukan berdasarkan kombinasi statistik atau pengetahuan kita tentang kategori dari sekelompok atribut yang mempunyai kemiripan sifatnya. Setelah jumlah faktor tersebut didefinisikan maka setiap responden dapat dimasukkan hanya ke dalam satu faktor. Proses ini biasanya lebih mudah menggunakan perangkat lunak statistic- misalnya SPSS.

2.       K-Means Clustering, yaitu metode yang mengidentifikasi kelompok responden yang mempunyai kemiripan berdasarkan sejumlah karakteristik tertentu. Jumlah cluster atau kelompok tersebut bisa ditentukan oleh setiap peneliti. Dan berdasarkan analisis statistik, selanjutnya setiap responden dapat dimasukkan ke sebuah kelompok yang sesuai.

3.       Two-Step Cluster Analysis, yaitu teknik yang didasarkan pada teknik hierarchical clustering (dapat dilihat di aplikasi SPSS). Algoritma atau prosesnya adalah mengidentifikasi kasus (responden) yang menunjukkan pola tanggapan (terhadap pertanyaan dalam kuisener) yang hampir sama.
 
4.       Latent Class Cluster Analysis,   yaitu menggunakan model peluang untuk memaksimumkan kecocokan model tersebut terhadap data (hasil riset). Model tersebut dapat mengidentifikasi pola dari beberapa variabel tak bebas (multi-variable), misalnya prilaku dan kebutuhan konsumen, serta menghitung hubungan atau korelasi dari variable tersebut dengan prilaku pembelian. Selanjutnya setiap responden dimasukkan ke dalam setiap cluster yang terbentuk berdasarkan peluang terbesarnya. 

Berikut adalah contoh hasil segmentasi pasar dengan menggunakan hasil analisis faktor terhadap hasil survey berupa kuisener yang ditanyakan kepada sejumlah responden. [Contoh penggalan kuisenernya dapat dilihat di bagian akhir tulisan ini yang menjadi tugas kelompok]

segmen 
Kesalahan pada Segmentasi Pasar

1.      Segmenting a segment, yaitu melakukan segmentasi yang terlalu kecil cakupan segmentasinya, atau melakukan segmen terhadap bagian pasar yang sudah homogen atau sudah cukup spesifik sebagai segmen pasar. Contohnya adalah produk untuk “Manula” dibagi-bagi lagi berdasarkan kisaran usianya, misalnya produk khusus untuk usia 55 tahun, untuk 60 tahun, dst yang sebenarnya tidak cukup membedakan dari sisi karakteristik produk atau aspek pertimbangan pemasaran lainnya.

2.      Overlooking “the Universal”, yaitu menggunakan pernyataan atau pertanyaan (pada kuisener) yang sebenarnya terlalu umum atau jawaban dari kuisener tersebut tidak dapat membedakan antar segmen pasar.  Contoh pertanyaan yang bersifat universal tersebut adalah “Apakah anda menginginkan mutu produk yang tinggi?”

3.      Creating too many segments, yaitu perusahaan terlalu banyak menggarap segmen pasar. Misalnya perusahaan mempunyai lebih dari lima segmen pasar untuk sejumlah produk yang dipasarkannya. Memang tidak ada batasan angka atau jumlah untuk dikatakan sebagai “terlalu banyak”, atau sangat tergantung pada kondisi atau kinerja perusahaannya. Namun jika perusahaan menggarap banyak segmen maka keputusan tersebut memerlukan variasi strategi pemasaran atau bahkan target keuntungan yang berbeda-beda untuk setiap segmen tersebut.

4.      Targeting all segments, yaitu menggarap atau memasuki semua segmen untuk satu produk yang sama. Semua segmen tersebut belum tentu homogen atau dengan kata lain, jika barang ditargetkan untuk semua segmen maka ada kemungkinan produk tersebut tidak akan laku secara merata, bahkan program periklanan pun tidak akan efektif menjangkau semua segmen pasar karena perbedaan media massa yang dibaca atau ditonton oleh konsumen di semua segmen.

5.      Confusing the results,  Studi segmentasi bisa luas dan rumit yang dapat mengakibatkan para analisis atau peneliti pemasaran bingung terhadap data atau hasil riset yang dikumpulkannya. Hal ini sangat erat kaitannya dengan teknik merancang instrumen survey (kuisener) dan teknik analisis yang relevan dan tepat.

6.      Overlooking the basics, penggunaan berbagai teknis analisis yang rumit terhadap jumlah data yang banyak kadang menyebabkan kita melupakan analisis terhadap data atau informasi yang umum dan sederhana. Padahal data umum yang dapat diketahui dengan  teknik analisis yang sederhana tersebut mungkin saja merupakan faktor segmentasi yang sangat penting atau menjadi pembeda utama segmen tersebut dibandingkan dengan segmen lain. Misalnya, kadang ada data perbedaan geografis yang luput dianalisis, padahal perbedaan lokasi tersebut menunjukkan perbedaan segmen yang disebabkan perbedaan budaya atau prilaku konsumennya. Ada beberapa teknik statistik sederhana yang dapat digunakan untuk melihat perbedaan tersebut, misalnya dengan analisis cross-tab (Catatan; teknik deskriptif ini sangat sederhana dan dapat dipelajari pada dasar statistiska atau dapat menggunakan aplikasi komputer seperti SPSS, dll).

7.      Targeting people instead of dollars, sebuah segmen pasar mungkin mencakup sejumlah populasi orang yang banyak, namun ternyata merupakan pasar yang sedikit atau kecil untuk barang yang ditawarkan pada segmen tersebut. Jadi menggunakan ukuran jumlah orang pada segmen tertentu tidaklah tepat. Muara akhir dari segmen pasar tersebut adalah seberapa banyak produk yang akhirnya dibeli oleh konsumen yang mungkin saja hanya sebagian kecil dari populasi dari segmen pasar yang menjadi sasaran sebuah perusahaan.


Daftar Pustaka


1.       Beth Horn dan Wei Huang (2009).“Comparison of Segmentation Approaches”. Decision Analyst.

2.       Jerry W. Thomas {2007) “Market Segmentation”. Decision Analyst.

3.       Michael Richarme (2004). “Business Segmentation: Emerging Approaches To More Meaningful Clusters”. Decision Analyst.

4.       http://www.justdoiteasy.com/questionnaire/segmentation.html diakses tanggal 17 Maret 2011

Tugas Kelompok

1. Segmentasi geografi
· Menurut anda makanan cepat saji ini lebih mudah ditemui di daerah :
- Perkotaan : 80%
- Pedesaan : 5%
- Pesisir pantai : 15%
2. Segmentasi media
· Anda mendapatkan info tentang makanan cepat saji ini dari :
- Teman : 30%
- Keluarga : 10%
- Media massa : 60%
3. Segmentasi harga
· Bagaimana dengan harga makanan cepat saji ini :
- Murah : 10%
- Sedang : 30%
- Agak mahal : 40%
- Mahal : 20%
4. Segmentasi demografi
· Makanan cepat saji ini lebih diminati kaum :
- Laki-laki : 45%
- Perempuan : 55%
· Makanan cepat saji ini lebih banyak diminati oleh
- Anak-anak : 10%
- Remaja : 30%
- Dewasa :45%
- Lanjut usia :15%
5. Segmentasi waktu
· Pada saat kapan anda sering mengunjungi gerai makanan cepat saji ini :
- Malam : 40%
- Siang jam istirahat : 30%
- Pagi :5%
- Sore :25%
6. Segmentasi gaya hidup
· Faktor apa yang mendorong anda untuk memilih makanan cepat saji ini :
- Gengsi :30%
- Kebutuhan :50%
- Ajakan teman : 20%